Yos David Inso
University of Palangka Raya
Fahrul Indrajaya
University of Palangka Raya
Keywords: Perolehan emas, amalgamasi, material alpha dan betha, pengolahan primer dan sekunder
ABSTRACT
Emas merupakan bahan galian logam yang memiliki nilai yang tinggi. Untuk memperoleh logam emas dari batuan yang mengandung emas harus melalui tahapan pengolahan terlebih dahulu. Pengolahan emas umumnya dapat dilakukan dengan banyak metode, salah satunya adalah amalgamasi. Kominusi bertujuan untuk mengecilkan ukuran sehingga didapat ukuran material yang dinginkan, material alpha adalah material yang memiliki ukuran antara 2 cm sampai dengan 4 cm, sedangkan material betha adalah material yang memiliki ukuran kurang dari 2 cm. Proses amalgamasi dilakukan pada material alpha dan betha selama kurang lebih 3 jam baik untuk pengolahan primer maupun sekunder. Proses pemanasan bertujuan untuk memisahkan paduan amalgam sehingga menjadi Hg (gas) dan Au (padatan). Pengolahan emas dilakukan sebanyak sepuluh kali pada masing-masing material alpha dan betha. Perolehan emas pengolahan primer material alpha berada pada range 0,10 gram sampai dengan 0,14 gram dan perolehan emas pengolahan sekunder berada pada range 0,68 sampai dengan 1,60 gram. Perolehan emas pengolahan primer material betha berada pada range 0,15 gram sampai dengan 0,18 gram dan perolehan emas pengolahan sekunder pada range 0,42 sampai dengan 0,53 gram. Berdasarkan proses amalgamasi maka dapat diketahui bahwa ukuran material betha lebih baik daripada material alpha pada pengolahan primer dan ukuran material alpha lebih baik daripada material betha pada pengolahan sekunder. Hal ini dikarenakan proses liberasi dan pemerasan (squeezing) pada saat kegiatan pengolahan emas.
REFERENCES
Andra. Biz. (2019). “Contoh proses ekstraksi emas dan perak dan ektraksi bijih emas perak amalgamasi dengan pengolahan emas perak cara amalgamasi. Ekstraksi emas perak dengan merkuri air raksa dan amalgamasi recovery emas tinggi”.
Anonim. (2008). “Pedoman Teknis Pencegahan Pencemaran dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Pertambangan Emas Rakyat, Lampiran Peraturan Menteri Lingkungan Hidup”.
Direktorat SDM, 1987. “Prospek Sumberdaya Mineral Logam di Indonesia”. Bandung: Departemen Pertambangan dan Energi.
Dwiyono, A.T. (2009). “Pengolahan Bijih Emas PT Antam Tbk”. Laporan Kerja Praktek. UPN Veteran Yogyakarta.
Kementrian ESDM. (2017). Penambangan Emas Tahun 2017 di Indonesia.
Mukuhan dan Hendra. (2008). “Pengaruh Konsentrasi Sianida Terhadap Perolehan Emas”. Manado: UNSRAT
Schlesinger, Mark E., King Matthew, J., Sole, Kathryn, C., Davenport, William, G. (2011). Extractive Metallurgy of Copper. Fifth Edition, Elviser Ltd., Amsterdam.
S.K. Bupati Kotawaringin Timur No.188.45/178/HUK-DISTAMBEN/2013 Tentang Wilayah Pertambangan Rakyat Pudu Jaya.
Widodo dan Aminuddin. (2011). “Upaya Peningkatan Perolehan Emas dengan Metode Amalgamasi Tidak Langsung (Studi Kasus: Pertambangan Rakyat Desa Waluran, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi)”. Bulletin of Enviromental Geologi, Vol. 21, No. 2 Agustus 2011, 83 – 96.